Ramalan Gurita Belanda vs Spanyol, Akhir kisah Piala Dunia Afrika Selatan 2010 menorehkan sejarah baru. Inilah kali pertama partai final Piala Dunia mempertemukan dua tim yang belum pernah merasakan gelar juara.
Ramalan Gurita Dan, juara dunia baru pun akan lahir dari "rahim" ajang akbar empat tahunan ini yang untuk kali pertama dihelat di benua Afrika.
Pada partai puncak yang akan dihelat di Stadion Soccer City, Johannesburg, Senin (12/7) nanti, Belanda akan bertemu dengan Spanyol.
Di babak semifinal, Belanda mengalahkan pengoleksi dua gelar Piala Dunia, Uruguay, dengan skor 3-2. Spanyol menyingkirkan peraih tiga gelar Piala Dunia, Jerman, 1-0 lewat gol Carles Puyol di Stadion Durban, Kamis (8/7).
Belanda dan Spanyol memang telah lama menjadi peserta event empat tahunan tersebut. Mereka juga kerap dilabeli tim besar dari daratan Eropa yang sering menjadi favorit juara. Namun faktanya tak selalu demikian.
Bagi Belanda, ini akan jadi final ketiga setelah 32 tahun silam mereka merasakannya. The Flying Dutchmen sebelumnya pernah menembus final di tahun 1974 dan 1978.
Sayang, keduanya berakhir dengan kekalahan. Kalah dari Jerman dan Argentina. Belanda pun harus puas menjadi runner up dua kali berturut-turut.
Meski selalu dihiasi bakat-bakat hebat, Spanyol bukanlah tim yang berprestasi istimewa di Piala Dunia. Baru di Piala Dunia 2010 ini Spanyol berhasil melaju ke partai puncak. Masuknya Spanyol sebagai finalis tahun ini sudah termasuk bagian dari sejarah yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya.
Keberhasilan Spanyol menjejak partai final sangat layak disambut gembira oleh Spanyol. Sebab, dari sejak pertama kali ikut Piala Dunia 1934, inilah prestasi terbaik La Furia Roja. Prestasi terbaik Spanyol sebelum ini hanyalah menjadi tim peringkat keempat di Piala Dunia 1950.
Setelah tahun 1950, Spanyol malah hancur-hancuran dengan tidak lolos ke putaran final 1954 dan 1958; juga di Piala Dunia 1970 dan 1974. Selain itu, Spanyol lolos tapi maksimal mentok di perempatfinal.
Spanyol tiga kali lolos ke delapan besar, yakni tahun 1986 di Meksiko, 1994 di Amerika Serikat dan tahun 2002 di Korea Selatan/Jepang. Namun grafik prestasi Spanyol mulai meningkat sejak menjuarai Piala Eropa 2008.
Dengan para pemain-pemain kelas satu, akhirnya si Matador berhasil menjejak finalnya yang pertama. Ekspektasi tinggi kini diharapkan publik Spanyol kepada Xavi Hernandez dkk. Kepalang tanggung sudah berada di final, pasukan Matador pun bertekad untuk membawa pulang trofi Piala Dunia ke negaranya.
"Mari kita nikmati final. Kami dedikasikan kemenangan atas Jerman ini untuk Spanyol. Jika kami bermain pada Minggu nanti seperti yang kami lakukan ini, kami akan memiliki peluang besar," kata Xavi seperti dilansir ESPN.
Jika Spanyol mampu mengalahkan Belanda dan tampil sebagai juara dunia, mereka akan mengikuti Jerman Barat dalam catatan sejarah, menjadi juara Eropa dan menambah gelarnya sebagai juara dunia. Perancis juga sukses mengawinkan Piala Dunia dan Piala Eropa.
Tim Matador pastinya sangat berhasrat akan mengawinkan dua gelar bergengsi tersebut.
"Sekarang adalah final menghadapi Belanda, mereka adalah tim hebat dengan permain sepakbola yang bagus dengan pemain yang hebat di tengah dan depan. Kami harus memainkan gaya dan sepakbola kami pada mereka," ujar Xavi.
Belanda tampaknya tidak ingin terhantui dengan kesialan masa lalu di mana mereka selalu diunggulkan menjadi juara namun akhirnya gagal di partai puncak. Gelandang De Oranje, Nigel De Jong, berusaha keras untuk melakukan pembedaan antara Belanda masa lalu dan Belanda masa kini.
"Tim masa lalulah yang menempatkan Belanda di posisi itu, dan itu sudah 32 tahun yang lalu. Ini adalah generasi baru. Kami tak bisa bertanding dengan membawa kenangan masa lalu. Ini adalah skuad kami dan masa kami. Dengan segala hormat, tim dulu telah mendapatkan hasil kerja keras mereka," kata De Jong.
Gelandang Manchester City mencontohkan bagaimana gigihnya perjuangan Belanda untuk bisa tembus ke final Piala Dunia kali ini. De Jong menilai beberapa kali Belanda telah teruji melewati masa-masa kritis terutama saat mengalahkan Brasil dan Uruguay.
"Kami punya semangat bagus. Kami selalu memainkan sepak bola terbaik yang kami bisa dan sebagai sebuah tim, kami bersatu. Anda bisa melihat hal tersebut dari performa kami di atas lapangan. Meski di semifinal kami mendapat kesulitan, tapi kami tetap bersatu. Dan kami selalu punya kualitas untuk mencetak gol," ujar pemain yang sudah bisa kembali tampil di final setelah bebas dari hukuman kartu.
Apapun optimisme yang dilontarkan De Jong, mantan pemain timnas Belanda Clarence Seedorf tetap mengingatkan para yuniornya agar benar-benar melakukan persiapan matang untuk menghadapi laga ketat melawan Spanyol.
Seedorf menilai Robin Van Persie dan kawan-kawan belum pernah teruji. Hanya sekali Belanda mampu melewati ujian berat saat mengalahkan Brasil di babak delapan besar, itupun dilakukan dengan perjuangan yang sangat sulit.
"Mereka membalikkan keadaan melawan Brasil pada babak kedua, tidak dengan permainan sepakbola yang indah, tetapi dengan ketenangan dan tidak memberikan Brasil kesempatan. Hal ini menggambarkan bagaimana Belanda bermain di turnamen ini," kata Seedorf.
Gelandang yang bermain untuk AC Milan ini masih menilai Belanda bermain tidak dengan cara spektakuler, tapi dengan disiplin. Mereka tidak pernah memberikan gol mudah bagi lawan. Hal ini mampu dilakukan pemain Belanda karena mereka memiliki konsentrasi tinggi dan kekuatan mental.
Seedorf pun mengungkapkan rahasia sukses The Flying Dutchmen. "Empat striker, Robin van Persie, Arjen Robben, Dirk Kuyt, dan Wesley Sneijder adalah pemain terpenting. Fakta bahwa mereka bisa menembus partai final adalah sesuatu yang luar biasa," jelasnya.
Apapun persiapan yang akan dilakukan Belanda dan Spanyol, pastinya Afrika Selatan akan menjadi saksi lahirnya juara dunia baru yang benar-benar baru. Gegap gempitanya Piala Dunia yang pertama kali digelar di Afrika ini pastinya akan ditutup dengan histeria mendalam bagi tim juara. (Tribunnews/cen)
Jumat, 09 Juli 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar